Pameran “Sa Pu Kisah”

Sa Pu Kisah; Buka Mata, Buka Hati

Pengalaman kekerasan yang dialami perempuan Papua tidak terlepas dari konflik panjang yang sudah lama terjadi di Papua, sejak tahun 1963 hingga saat ini. Kekerasan diterima perempuan Papua dari berbagai pihak, baik kekerasan yang dilakukan oleh negara, kekerasan domestik dan kekerasan yang diterima dari keduanya. Namun, banyaknya kekerasan yang terjadi pada perempuan tidak juga membuat pemerintah fokus mengakhiri kekerasan terhadap perempuan di Papua. Walaupun Papua telah mengecap status Otonomi Khusus selama hampir 20 tahun, banyak perempuan Papua yang terus hidup di pinggiran, jauh dari jangkauan manfaat pembangunan, dan hidup dalam lingkaran kekerasan.  Salah satu permasalahan yang dihadapi perempuan Papua adalah ketidakpastian kepemilikan sumber daya alam dan tanah ulayat yang menghambat penguatan perempuan Papua dan berkontribusi pada kekerasan yang berulang. Meskipun perempuan Papua memainkan peran utama dalam merawat hutan dan kebun. Proyek-proyek pemerintah dan swasta mengakibatkan perempuan Papua kehilangan tanah dan hutan…

Rumah Yang Dijaga Mama

Oleh: Ignasius Dicky Takndare “Jika seorang pria kelas atas menyerang seorang perempuan merdeka sehingga dia kehilangan anaknya yang belum lahir (keguguran), pria itu harus membayar sepuluh syikal perak untuk kehilangan janin itu,” … “dan jika wanita (yang diserang) itu meninggal, anak perempuan dari pelaku itu akan dihukum mati.” Saya membayangkan seorang guru Sekolah Dasar di sebuah negeri yang dunia pendidikannya kacau balau menuliskan kalimat tersebut di papan tulis dan meminta murid-muridnya memetakan kata-kata kunci yang dapat mereka temukan. Mungkin kebanyakan dari murid-murid malang itu akan menulis, laki-laki, perempuan, keguguran, janin, anak perempuan, dan mati. Tapi memang demikianlah petikan dari salah satu poin dalam sebuah undang-undang kuno yang disebut sebagai salah satu undang-undang paling awal yang pernah dirumuskan dalam sejarah peradaban manusia. Dituliskan oleh seorang Raja Babilonia sekitar seribu tahun sebelum Musa menuliskan Kitab Kejadian yang oleh beberapa kalangan dalam sebuah…

Memaknai “Mama Tanah” dalam Perjuangan Perempuan Papua Melalui Seni Rupa

Oleh: Rut M Ohoiwutun “Gunung nemangkawi itu saya, gunung Wanagong itu saya punya sum-sum, laut itu saya punya kaki, tanah di tengah ini tubuh saya. Kau sudah makan saya, mana bagian dari saya yang kau belum makan dan hancurkan? Kau sebagai pemerintah harus lihat, dan sadar bahwa kau sedang makan saya, coba kau hargai tanah dan tubuh saya!” Mama Yosepha Alomang, Mei 2000 Dunia memperingati Hari Perempuan Internasional setiap tahun tepatnya 8 Maret 1975. Momentum ini berangkat  dari seberang benua yang memiliki sejarah pergerakan yang berbeda dengan Papua. Namun kesempatan ini menjadi penting bagi solidaritas Perempuan di Papua untuk mengeskpresikan dirinya secara bebas sebagai “Manusia Merdeka”. Kendati ada perbedaan konteks sejarah penindasan, pergerakan, argumentasi yang berkembang pada tiap momentum solidaritas; yang penting adalah benang merah yang dimilki bersama yaitu semangat perlawanan atau tidak menerima begitu saja berbagai bentuk penindasan terhadap…

Perempuan Papua dan Upaya Membangun Ruang Aman

Oleh : Nourish Griapon SAHKAN RUU-PKS HENTIKAN KRIMINALISASI TERHADAP BURUH PEREMPUAN STOP VICTIM BLAMING PEREMPUAN BUKAN KOMODITI Slogan-slogan seperti di atas dan masih banyak lagi selalu diteriakan pada setiap kesempatan dalam aksi-aksi rakyat. Sampai saat ini jumlah kekerasan terhadap perempuan dan kelompok rentan kekerasan terus meningkat. Kekerasan terhadap perempuan dan kelompok rentan merupakan masalah serius dan harus segera ditangani, mengingat negara kita merupakan negara demokrasi yang dengan slogan-slogan kenegaraannya yang berupaya untuk terus hadir memberikan rasa aman terhadap rakyatnya. Apalagi setelah satu tahun mengalami masa pandemi Covid-19 sejak 2020 hingga saat ini banyak kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan. Catatan Kekerasan Terhadap Perempuan 2020 Jumlah kekerasan terhadap perempuan mencapai 892 kasus sampai Mei 2020. Hampir sama dengan 63% dari total pengaduan sepanjang 2019 (Data Komnas Perempuan, 2020). Kasus kekerasan di area daring/online paling tinggi dibanding tahun 2019. Dimana fenomena ini…

Dengarkan episode lainnya di Spotify: Humanity Youth Podcast!